Cerita Pendek yang Sedikit Dipanjangkan

 Hallo, perihal cerpen kemarin, saya kembali menambah sedikit bagian untuk memperlihatkan keberlanjutan kisah Kugy dan Huka malam itu. 



"I don't need your honesty, it's already in your eyes..........,"

Begitulah penggalan lirik dari lagu yang sedari tadi Kugy dengarkan melalui HP-nya dengan volume yang sedang agar tidak menggangu penghuni kamar yang sudah tidur. Lagu yang dipopulerkan oleh Adelle, penyanyi favoritnya, sengaja diputarnya terus-menerus, menandakan bahwa dia sedang "tidak baik-baik saja." Lirik yang sedih dengan tempo musik yang lambat adalah kombinasi yang tepat untuk menemani dan mewakili seluruh keadaan hatinya malam ini.

Sebagai seorang penganut "anti-tidur-tidur-malem," jam segini seharusnya dia sudah terlelap di atas kasur, bermain-main di alam mimpi. Tapi, malam ini sungguh berbeda. Waktu menunjukan pukul 23.30, Kugy memutuskan untuk tidak tidur lebih awal, seakan menyangkali pola tidur yang sudah diterapkannya 2 tahun terakhir. 

Di samping jendela yang masih terbuka lebar, dia duduk dengan posisi tubuh yang dipertahankannya sejak 21 menit yang lalu. Kepalanya tersandar di kusen jendela, mata menatap keluar, kakinya yang panjang menjulur menguasai seluruh permukaan sofa ungu kesukaannya, yang dia beli dari sepertiga gaji pertamanya.  Di atas pangkuannya, ada sebuah kotak kecil berisi parfum yang sengaja dibelinya minggu lalu sebagai hadiah ulang tahun Yoga, besok. 

Kini, Kugy masih tetap mengarahkan pandangannya keluar, menikmati keindahan cahaya bintang di langit malam. Keadaan yang begitu berkesan. Bagaimana tidak, sepuluh bulan menjalin asmara dengan Yoga, hampir setiap sabtu malamnya dihabiskan bersama Yoga, melihat langit malam, menanti bintang jatuh. Dari kecil, Kugy sangat ingin melihat bintang jatuh. Seperti kata orang, mengucapkan harapan saat bintang jatuh memiliki potensi yang besar untuk terkabulkan, Kugy percaya akan hal itu. Ya, meskipun sampai sekarang belum kejadian juga. 

***

Tiba-tiba, bangunlah Huka, adiknya yang sekamar dengannya, merasa terganggu, bukan oleh suara lagu, melainkan suara tangisan Kugy yang sesekali lebih dominan dari volume lagu tersebut. Huka yang masih terbaring di tempat tidur, mengumpulkan nyawa, kemudian mengusahakan otaknya berpikir keras, mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri "kenapa kakak menangis?" Otaknya dengan begitu cepat mengamati suasana kamar itu. Suara tangisan dan lagu galau adalah perpaduan yang paling pas, menunjukan seseorang sedang mengalami "patah hati." Dia ingat respon Kugy akhir-akhir ini ketika ditanyakan tentang Yoga, senyum penuh paksaan, berbeda dari biasanya yang selalu ceria ketika bercerita tentang Yoga, seolah-olah nyawanya bertambah dua. Huka semakin yakin, kakaknya sedang mengalami problema klasik anak muda seusianya, yaitu "putus cinta."

Huka bangun dari tempat tidur, melangkah mendekati kakak semata wayangnya itu. Kugy yang sadar bahwa Huka sedang mendekatinya, berusaha mengurangi suara tangisan dan mengusap air mata yang lumayan deras membasahi pipi tembemnya. Namun, akhirnya menyerah karena Huka memang tak bisa dibohongi. Keadaan seperti inipun sangat mustahil untuk ditutupi. 

Kugy segera menyilangkan kaki, memberi ruang bagi Huka untuk duduk di dekatnya. Huka memberikan senyum yang begitu manis sebagai sinyal bahwa dia siap mendengar kakaknya bercerita. 

"Emang ya Uka (Uka, panggilan sayang Kugy ke Huka), kita ga pernah bisa ngontrol keadaan," kata Kugy pelan-pelan, berusaha mengontrol tangisannya.

***

Kugy bercerita tentang peristiwa tiga hari lalu, ketika dia diputuskan oleh Yoga dengan alasan "ingin memperbaiki diri."

"Kan kita bisa perbaiki diri bareng-bareng," kata Kugy kepada Yoga, berusaha menolak permintaan putus dari pacarnya, waktu itu.

"Maaf Gy, aku mau memperbaiki diri, sendiri," kata Yoga mengakhiri obrolan kemudian pergi.

Kugy yang tak habis pikir, tetap berusaha menghargai keputusan Yoga. Awalnya, dia hanya sedih. Namun, kini bertambah marah, jengkel, dan kecewa yang teramat besar ketika pagi tadi, Kugy melihat postingan pada akun instagram Yoga bersama seorang wanita, dengan caption selayaknya orang pacaran. Kugy merasa sudah dibohongi dan tidak terima dengan cara Yoga mengakhiri hubungan mereka.

***

Kali ini, Huka masih tetap tersenyum mendengar kakaknya bercerita. Baginya, dalam keadaan seperti ini, "kata-kata" belum seharusnya mengambil peran. Huka membuka lebar tangan dan lengannya, memberikan pelukan yang begitu hangat dalam beberapa menit. Pelukan adalah obat terbaik. 

"Tidur yuk Kak, besok akan baik-baik saja," kata Huka, pelan.

Masih dalam pelukan, mata Kugy seketika mengarah ke langit, tersenyum melihat bintang jatuh, sesuatu yang dinantinya sejak dulu. Dia tersenyum sambil mengucap pelan-pelan,

"Jatuhlah bintang, jatuhlah ke dasar laut yang paling dalam,"

"Pergilah bintang, pergilah sejauh mungkin, seperti dia yang telah pergi," balas Huka. Mereka pun saling berbagi tertawa kecil.

Beberapa menit setelah itu, suara lagu menguasai seluruh ruangan, menemani Kugy dan Huka yang masih belum rela melepas pelukan.

***

Rupanya, ayah dan ibu yang berdiri di balik pintu, memerhatikan apa yang dilakukan  Kugy dan Huka, sedari tadi lamanya. Hati mereka begitu patah dengan kesedihan Kugy. Namun, bersyukur karena bisa melihat kedua putri mereka tumbuh sebagai sepasang saudara yang bisa hidup berbagi dan saling menguatkan. 


TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumpa